Peranakan Tionghoa dalam Kuliner Nusantara
“And I learned to love Indonesia while flying kites and running along the paddy fields and catching dragonflies, buying satay and baso from the...
Also Available in:
- Amazon
- Audible
- Barnes & Noble
- AbeBooks
- Kobo
More Details
“And I learned to love Indonesia while flying kites and running along the paddy fields and catching dragonflies, buying satay and baso from the street vendors. I still remember the call of the vendors. Satay!
I remember that. Baso!”
Tepuk tangan membahana dan gelak tawa terdengar ketika Presiden Amerika Serikat Barack Obama menyebut dua nama penganan khas Indonesia saat berpidato di Balairung Universitas Indonesia, 10 November 2010 silam. Siapa sangka bahwa sate dan bakso adalah makanan favorit Obama dari masa lalunya, masa Barry kecil masih tinggal di daerah Menteng, Jakarta, bersama kedua orang tuanya. Kenangan ini ternyata tak terlupakan sepanjang hayat.
Pada masa kunjungan Presiden AS ke-44 itu ke Indonesia, mungkin untuk pertama kali dalam jamuan makan kenegaraan disajikan ”makanan rakyat” yang disukai sang Tamu Negara. Bakso hadir di atas meja makan berformat fine dining.
Budaya dapur Nusantara banyak sekali dipengaruhi oleh budaya kuliner Tionghoa dan Belanda. Pengaruh dari dua kebudayaan asing ini kuat mengakar dan bertransformasi menjadi salah satu identitas yang baru sama sekali. Kuliner Indonesia hasil akulturasi dengan budaya Tionghoa dan Belanda ini kemudian menemukan bentuknya sendiri yang tidak dapat ditemui baik di dapur Tiongkok ataupun Belanda yang asli.
- Format:Paperback
- Pages:216 pages
- Publication:2013
- Publisher:Buku Kompas
- Edition:
- Language:ind
- ISBN10:
- ISBN13:
- kindle Asin:B0DLT4RRYS









